Menjadi Pemulung tidak menjadi batasan untuk Herlyn Irwansyah untuk berinovasi, bahkan ia berprinsip jika ingin mengerti ilmu sampah harus menjadi tukang sampah. Berkat ketekunannya, ia berhasil mengolah sampah menjadi batu bata. [wideshot - Metro TV]

Di kolom surat pembaca sering termuat aktivitas sekelompok mahasiswa yang sedang melakukan kuliah kerja nyata (KKN) yang berniat membangun perpustakaan di desa tempat mereka mengabdikan diri. Untuk niatan itu, mereka kemudian meminta sumbangan bahan-bahan pustaka.

Ide dan niat itu sungguh mulia. Tetapi sering mereka lupakan, bahwa perpustakaan buatan mereka itu harus terus tumbuh, bahkan ketika mereka selesai melangsungkan KKN itu. Bahan-bahan pustaka yang terbatas, hanya itu-itu saja dan tak ada yang baru, justru akan mematikan minat warga untuk membaca.

Salah satu cara membuat perpustakaan bertumbuh adalah menjamin adanya aliran dana untuk membeli buku-buku baru. Bagaimana bila dana itu dicoba dihasilkan melalui penjualan sampah-sampah di desa bersangkutan ?

Kita dapat belajar dari solusi kreatif yang muncul dari gerakan akar rumput di Dusun Badegan, Trirenggo, Bantul, Yogyakarta. Berawal dari kesadaran individu, warga mulai mengumpulkan sampah di rumahnya.

Sampah tersebut lalu disetorkan ke Bengkel Kerja Kesehatan Lingkungan atau yang kini lebih dikenal dengan nama Bank Sampah Gemah Ripah yang dipelopori oleh Bambang Suwerda.

Di tempat ini sampah ditimbang, dicatat dan kemudian harganya ditentukan ketika sampah tersebut dibeli oleh pengepul sampah. Disinilah letak fungsi bank karena pencairannya kepada warga dilakukan setiap tiga bulan sekali.

Ternyata, jika sampah dikelola dengan baik bisa mendatangkan manfaat, membawa berkah bagi warganya. Perpustakaan desa yang dibangun dari hasil sampah pun, kiranya pantas pula untuk kita coba.

 

Ditulis oleh: Bambang Haryanto, Warga Epistoholik Indonesia, Kontributor olahsampah.com
Sudah dipublish di Harian Kompas Jawa Tengah, Senin, 19 Juli 2010 : Halaman D

Wilbur Ramirez hanya bisa terperangah dan geleng-geleng kepala melihat Imam Syaffi memungut sampah bercampur lumpur di suatu selokan di Jakarta. Sebagai petugas kebersihan asal London, Wilbur mengaku takjub bahwa koleganya itu bekerja dengan peralatan yang sangat tidak layak, bergaji kecil, namun kerja ekstra keras.

Stasiun berita BBC menayangkan "studi banding" Wilbur ke suatu kawasan pemukiman di wilayah Guntur, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Dia menyaksikan langsung bagaimana Imam melaksanakan tugasnya sebagai petugas kebersihan, yang di sini lebih populer dengan sebutan "Tukang Sampah."

Kisah Imam si tukang sampah bersama Wilbur ditayangkan oleh stasiun BBC Two di London pada Minggu malam, 29 Januari 2012 waktu setempat. Berjudul "Toughest Place to be a Binman" (Tempat paling sulit menjadi Tukang Sampah), tayangan dalam bahasa Inggris itu bisa disaksikan dengan membuka tautan ini.

"Sampaaaah!" sahut Imam di depan rumah seorang warga. Itu tanda Imam sudah siap mengambil tumpukan sampah dari penghuni rumah. Sebagai peserta studi banding, Wilbur pun membantu Imam mengambil dan memindahkan sampah ke sebuah gerobak dan berjalan kaki dari rumah ke rumah.

Dalam tayangan itu, Wilbur menuturkan bahwa fasilitas dan gaji yang diterima Imam berbeda jauh dengan yang dia terima sebagai petugas kebersihan di London. Harus memungut sampah hampir seratus rumah, Imam bekerja enam hari dalam sepekan dengan gaji sekitar Rp200.000/minggu. Imam digaji oleh pengurus RW setempat.

Di London, petugas sampah dilengkapi dengan truk untuk beroperasi dari rumah ke rumah. "Namun di sini [Jakarta], Imam bekerja hanya menggunakan sebuah gerobak yang panjangnya seukuran bak mandi, dengan sedikit lebih tinggi, namun harus dia tarik sendiri," tutur Wilbur.

Wilbur pun tidak habis pikir bahwa sampah di Jakarta bercampur baur menjadi satu tumpukan. Tidak ada pemisahan antara sampah organik dengan yang non organik, sehingga sangat menyulitkan petugas seperti Imam saat memungut sampah.

Namun, yang membuat Wilbur terkesima adalah ketika Imam turun langsung ke dalam suatu selokan terbuka untuk mengambil sampah yang sudah bercampur lumpur. "Dia ke selokan tanpa pakai alas kaki!" kata Wilbur.

Begitu sampah dari selokan sudah diangkut ke dalam gerobak, Imam harus menginjak-injaknya, juga dengan kaki telanjang. "Padahal ada beling dan apapun di sana. Kaki orang ini pasti seperti kulit badak," kata Wilbur terkesima.

Selama bekerja, pria bertubuh besar itu memakai baju berlapis dua dengan celana lapangan yang menutup sekujur tubuhnya, bertopi dan bersepatu. Berbeda sekali dengan Imam, pria berperawakan kecil yang hanya mengenakan kaos oblong dengan celana belel sepanjang lutut dan tanpa mengenakan alas kaki.

Wilbur salut atas pengabdian Imam sebagai tukang sampah. "Imam bekerja ekstra keras. Ini hari yang sangat melelahkan. Saya pun tidak akan bisa seperti dia," kata Wilbur, yang sudah sepuluh hari magang sebagai tukang sampah di Jakarta.

Dia meninggalkan tempat kerjanya yang nyaman di London untuk mengetahui bagaimana kerasnya bekerja sebagai tukang sampah yang berpeluh keringat setiap hari.

Dihuni hingga 28 juta jiwa, Jakarta setiap hari menghasilkan enam ribu ton sampah yang diangkut ke tempat pembuangan akhir di Bantar Gebang. Itulah pentingnya pengangkut sampah seperti Imam. Namun, penghasilan yang diterima sangat tidak seimbang dengan apa yang harus dia kerjakan.

"Walau ini sangat berat, saya harus melakukannya karena tidak punya keahlian lain. Saya mau bekerja apa saja demi keluarga," kata Imam.

sumber: vivanews.com

Toughest Place to be a Bin Man (Nasib Tukang Sampah di Jakarta, Indonesia)