Sejauh ini di Indonesia memang tak ada pabrik-pabrik barang elektronik yang mengeluarkan kebijakan untuk menarik produk yang rusak dari tangan konsumen untuk diolah sampah elektroniknya. Bahkan untuk pabrik dengan merek besar sekalipun belum mengeluarkan kebijakan tersebut.

Seperti yang diungkapkan oleh Usi, Supervisor Service Center Mobile Samsung yang ada di Bandung Electronic Centre (BEC). Menurut dia, hingga saat ini belum ada kebijakan dari pimpinan merek dagang tersebut untuk mengolah telefon seluler yang benar-benar rusak dan tidak dapat dipakai kembali untuk  diolah limbahnya oleh pabrik.

"Sejauh ini tidak ada ya kebijakan dari perusahaan kami untuk menarik kembali handphone yang rusak untuk diserap atau dirusak atau diolah kembali limbahnya. Paling juga ada misalnya upaya perusakan handphone di kantor kami ini. Misalnya yang diservis tapi sudah rusak sama sekali dan tidak bisa dipakai kembali maka kami scrap secara manual. Ya dihancurkan begitu saja lalu dibuang ke tempat sampah. Dan itu pun jarang sekali, tahun kemarin saja hanya satu yang kami serap," ungkapnya ketika ditemui "PR" di BEC, minggu lalu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ayu, admin Service Center Toshiba untuk perbaikan laptop, masih di kawasan BEC.  Menurut dia, merek dagang tersebut memang belum mengeluarkan kebijakan untuk mengolah sampah elektronik dari laptop-laptop yang tidak bisa digunakan sama sekali.

"Belum ada ya kebijakan seperti itu, entah bagaimana ke depannya. Tapi setahu saya kalau laptop nongaransi yang tidak bisa diperbaiki kembali biasanya akan dibawa pulang lagi oleh konsumen. Tidak ada kebijakan kami mengeluarkan uang untuk membeli laptop rusak tersebut lalu dibawa ke pabrik untuk diolah kembali," ujarnya menjelaskan.

Namun, beda halnya dengan baterai laptop. Menurut Ayu, khusus untuk baterai memang ada kebijakan dari merek dagang Jepang tersebut untuk "meminta" baterai yang sudah rusak dari konsumen untuk diolah sampahnya.

"Kalau baterai laptop yang sudah tidak bisa dipakai biasanya akan kami minta untuk ditinggal supaya bisa diolah secara benar. Sebab dalam baterai laptop itu, ada cairan yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Nah, baterai laptop yang sudah tak bisa dipakai tersebut biasanya akan kami kembalikan ke pabrik untuk diolah secara tepat," ucapnya lagi.

Sayangnya, banyak dari konsumen yang biasanya tak rela barang-barangnya diambil atau ditinggal di service centre. Banyak dari mereka yang Iebili memilih untuk menyimpan "bangkai" elektronik tersebut dengan alasan sebagai kenang-kenangan.
"Ya mungkin itu salah satu 'budaya' orang Indonesia. Barang elektronik yang rusak biasanya akan mereka ambil kembali dari kami karena mungkin menyimpan berbagai kenangan untuk mereka. Makanya, tak semudah itu untuk 'meminta barang elektronik yang rusak bahkan baterai laptop sekalipun untuk kami kelola limbahnya," ungkap Ayu.

Hal senada juga diungkapkan Usi. Menurut dia, kalau ada handphone yang benar-benar mati dan tidak bisa diperbaiki kembali, kebanyakan konsumen mereka akan membawa pulang handphone tersebut sebagai kenang-kenangan.
"Jarang sekali, dan hampir sama sekali tidak ada konsumen yang merelakan handphone yang sudah rusak itu kami ambil. Kecuali kalau yang harga servisnya benar-benar mahal dan mereka tidak mampu bayar, biasanya mereka akan merelakan handphone tersebut ditinggal di kami untuk discrap secara manual," tuturnya.

Tak hanya di service center resmi dari merek elektronik tertentu, bahkan di tempat servis umum pun mengakui hal yang sama. Seperti yang diungkapkan Anwar, salah seorang teknisi printer di kawasan Istana Building Commodities C.enter (IBCC) Bandung. Menurut dia, printer yang benar-benar rusak dan tidak bisa dipakai lagi akan diminta lagi oleh konsumen sebagai kenang-kenangan.

"Kebanyakan dari mereka sih seperti itu. Dengan alasan sebagai kenang-kenangan akan diminta lagi. Tetapi ada juga yang rela ngasih ke kita, mungkin mereka pikir buat apa lagi kalau tidak bisa digunakan juga. Ya kita simpan saja di toko," ujarnya kepada "PR" saat ditemui di IBCC, minggu lalu.

Lalu 'bangkai" printer tersebut, lanjut Anwar, biasanya akan mereka "oprek" untuk diambil spare partnya yang masili bisa dipakai. Sisanya? "Ya kalau sudah tidak ada yang bisa diambil lagi untuk dimanfaatkan, biasanya akan kami buang begitu saja ke tempat sampah tanpa pengolahan khusus. Dari pabrik-pabrik printer pun belum ada kebijakan untuk menarik kembali 'bangkai-bangkai' seperti ini untuk dikelola oleh mereka," ucapnya menjelaskan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Yalis, pemilik toko dan servis notebook di kawasan IBCC. Menurut dia, merek-merek besar produsen laptop tidak mengeluarkan kebijakan untuk menarik kembali dari tangan konsumen laptop-laptop yang sudah rusak sama sekali.

"Apalagi sampai mengeluarkan dana pengganti untuk konsumen supaya laptop rusaknya dikelola oleh pabrik, belum ada yang seperti itu ya sepengetahuan saya. Jadi hingga saat ini, masjh diserahkan saja kepada konsumen, apa mau disimpan atau dibuang begitu saja laptop-laptop tersebut," katanya.

Dalam satu hari, lanjut Yalis, mereka biasa menerima orderan servis laptop rata-rata sepuluh unit per hari. "Tapi biasanya laptop yang nongaransi. Kalau masih garansi biasanya akan dibawa ke service center masing-masing. Laptop-laptop tersebut biasanya akan kami perbaiki sebisa mungkin, kalau yang sudah rusak parah biasanya ganti mesin dan bisa dipergunakan kembali. Kalau masih belum bisa juga ya diambil lagi sama konsumen," tuturnya lagi.

Hingga saat ini memang belum ada kebijakan dari pabrik-pabrik elektronik besar sekalipun yang menarik kembali bangkai elektronik mereka untuk dikelola secara benar. Padahal, sampah elektronik memiliki bahan-bahan yang tak sekedar berbahaya tetapi juga beracun. (Feby Syarifab)"*

sumber: Harian Pikiran Rakyat, 11 April 2013

Comments   

 
0 #2 the 2016-03-22 17:52
Having read this I thought it was rather informative.

I appreciate you finding the time and energy to put this
article together. I once again find myself personally spending a lot of time both reading and commenting.
But so what, it was still worthwhile!
Quote
 
 
0 #1 Fitrian Nugroho 2013-10-06 05:39
Service center resmi biasanya menerapkan harga kelewat mahal dan terlalu malas untuk memperbaiki pada level komponen, kebanyakan mereka hanya memperbaiki pada level FRU (Field Replacement Unit). Komsumen menarik kembali barang mereka untuk mencari alterntif yaitu service center tak resmi yang mau berusaha memperbaiki pada level komponen, bahkan modifikasi jika terpaksa dan harganyapun bersaing. Jika mereka meninggalkan barang di service center resmi itu karena harga pengecekan kerusakan sudah kelewat mahal dan tidak ekonomis lagi.
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh