TENGGARONG - Pemkab Kukar sedang menyiapkan mesin pengolahan sampah menjadi bahan bakar setara batu bara, berlokasi di sekitar TPA Bekotok. Bahan bakar yang dihasilkan bakal memasok sumber energi bagi sejumlah power plant di Kukar. Dua pekan lalu, Bupati Kukar Rita Widyasari didampingi Kepala Perusda Kelistrikan dan Sumber Daya Energi (PKSDE) Kukar M Shafik Avicenna, mengunjungi Shanghai, Tiongkok

“Kami ke Shanghai melihat langsung pabrik pengolahan sampah menjadi energi. Produk yang dihasilkan berupa pupuk dan batu bara,” kata Rita. Dia mengatakan, produk yang dihasilkan hampir sama dengan batu bara asli dengan kalori 5.000-6.000. Hanya bagian unsur yang agak berbeda. Pabrik pengolahan sampah di Shanghai itu akan diimplementasikan di Kukar.

Tim dari PT Ametis Indo Sampah siap merakit mesinnya. Rita berharap tahun ini mesin pengolahan sampah siap dioperasikan. “Kami sangat membutuhkan energi. Banyak sekali power plant yang perlu. Jadi, sebetulnya ini pengganti energi yang tidak terbarukan. Kalau nanti kekurangan batu bara, kita bisa pakai ini,” jelasnya.

Ke depan, TPA Bekotok bukan lagi tempat pembuangan sampah tapi hanya pembuangan sementara. Sampah langsung diproses mesin pengolah dan keluar menjadi sumber energi. Pabrik pengolahan sampah ini akan dikelola swasta bekerja sama dengan PKSDE. “Sementara ini, mesin pengolahan sampah didanai investor.

Kami tidak memakai APBD dulu,” ujar Rita. Dia berharap, mesin pengolahan sampah bisa dioperasikan November 2014. “Produk pengolahan sampah bisa menjadi briket dan pupuk. Pupuknya pun punya kualitas baik. Sekarang seluruh Shanghai menggunakan produk pupuk andalan ini,” tuturnya. Rita menambahkan, briket merupakan buah pemikiran orang Indonesia.

Kukar akan menjadi daerah pertama di Indonesia yang menerapkan mesin pengolah sampah menjadi bahan bakar setara batu bara. Sementara itu, Presiden Direktur PT Ametis Indo Sampah Bayu Indrawan mengatakan, mesin pengolahan sampah menggunakan prinsip teknologi hidrotermal, memanfaatkan uap panas jenuh.

Sampah campur dimasukkan ke reaktor, lalu diinjeksikan dengan uap panas, sekitar 25-30 bar. “Setelah satu jam, sampah keluar menjadi bahan seragam atau homogen yang tidak bau lagi. Bahkan bau seperti aroma kopi dan gampang kering. Karakteristiknya mendekati batu bara,” jelas Bayu. Sedangkan bila produk ini dicampur 80 persen batu bara, karakteristik bahan bakarnya jadi hampir sama.

“Apabila mau mendesain untuk power plant khusus dengan produk ini, kita bisa mendapatkan 100 persen batu bara tapi boiler harus dimodifikasi,” imbuhnya. Menurutnya, keunggulan produk ini paling cocok dengan Indonesia. Selama ini dikenal beberapa teknologi pengolahan sampah secara konvensional, yakni incinerator menggunakan prinsip pembakaran.

Incinerator memang sangat bagus tapi tidak cocok dengan karakteristik sampah Indonesia. Mayoritas sampah negeri ini merupakan organik yang kadar airnya tinggi. Selain itu, biaya pengolahan sampah lewat incinerator terlalu tinggi. Belum cocok diterapkan di Indonesia. “Air yang dibakar berarti efisiensi konversinya rendah sehingga energi yang dihasilkan incinerator kurang maksimum,” ucapnya. (hmp02/*/ bby/k11)

Sumber: Kaltim Post (http://www.kaltimpost.co.id/)

Comments   

 
+1 #1 agus subekti 2014-08-25 09:06
sangat bagus
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh